Sabtu, 14 Mei 2016

Story : A FIGHT WITH WORLD

Kamis, 06 juni 2013
A FIGHT WITH WORLD
OLEH : Nining Irianti

Kisah anak kecil laki – laki berusia 8 tahun, dia hidup seperti air mengalir. Ketika hujan datang dia menjadi lumpur, ketika banjir datang, dia menjadi air menjijikkan dan dia tidak pernah tahu bagaimana menjadi air sungai yang segar, bagaimana air terjun mengalir jatuh dari pegunungan. Dia selalu mengalir dalam kekotoran dan kegelapan, ketika badai datang dia terbawa olehnya mengikuti arus, namun yang membingungkan dirinya kenapa dia selalu merasakan kekotoran itu, kegelapan itu, dia selalu menjadi kotor dari yang kotor, menanggung kekelaman, kepahitan, dia cair, dia selalu mengikuti dimana dia berada. Hidup sendiri dalam dunia, dunia menjauhkannya, dunia menjauhkan dia dari sekitarnya. “Hidup yang seperti apa yang di inginkan dunia? Jika hanya satu – satunya tempat ini untukku bisa hidup, hidup seperti apa yang diinginkan dunia untukku?” dia terus memikirkan itu dia ingin menjadi seperti air di sungai hidup dalam ketentraman, mengalir dari pegunungan indah dan terus ke laut bebas bersama ikan – ikan indah dan batu karang. Dia tidak ingin seperti air yang menjadi lumpur saat hujan, bukan!!! dia mungkin tanah yang di tetesi air dan kemudian menjadi air yang kotor, dia hanya menjadi sesuatu yang kotor dari sesuatu yang benar bagus, ketika sesuatu yang bagus bersamanya, dia akan menjadi sesuatu itu, namun sesuatu tersebut tak ingin bersamanya dan menjadi sesuatu yang kotor. Suatu hari, ketika dia naik di sebuah bukit, bukit yang sangat tinggi dan indah, dia mencapainya seorang diri, dia berjalan menyusuri sungai, dan mendaki gunung tinggi, dan kemudian dia sampai pada puncak gunung itu, puncak gunung yang sangat tinggi itu, dari atas dia bisa melihat samudra yang terbentang luas,air terjun yang indah di bawanya mengalir indah, dia bisa merasakan angina bertiup di sekelilingnya, dia merebahkan sayapnya, layaknya seekor burung yang akan terbang bebas dalam dunianya. Dia melihat langit yang biru di atasnya terbentang, dia merasakan keindahan yang tidak pernah di rasakan, yang selama ini tidak dia rasakan,  bahkan merasakan langit terbentang dia tidak pernah merasakan. Dan ketika itu, dia berpikir , “sekarang, dunia membawaku ke sini, dia membawaku untuk memperlihatkan indah nya yang dia miliki, dia memberitahuku kehidupan dalam dunianya, tapi dia tidak memberitahuku caranya untuk sampai ke kehidupan itu” dan dunia itu berbicara padanya “untuk sampai ke kehidupan yang kamu inginkan, ada beribu cara, berjuta. Bermiliyar, bahkan tak terhingga, tapi dia antara cara tersebut hanya ada satu cara terbaik yang paling terbaik dari yang trebaik, yang akan membawamu dalam sesuatu yang tidak akan dunia percaya, ketika kamu berjalan ke bukit ini, kamu hanya melewati jalan yang biasa orang lalui, dan ketika itu kamu hanya bisa melihat sungai dan air terjun yang tidak mau melihat kamu” dan anak itu mulai berpikir, “jika itu yang harus ku lakukan untuk mendapatkan kehidupan di duniamu, aku akan melakukannya. Tapi bukan seperti apa yang kamu beritahu kepada setiap orang yang datang kesini yang menanyakannya padamu, aku akan melakukan dengan caraku sendiri, jika dunia itu seperti yang kamu katakan, jika dunia itu rumit seperti yang kamu katakan, jika sulit untuk bersamamu, aku akan mengubah cara itu. Bukan aku yang akan membawamu bersamaku suatu saat nanti, tapi kamu yang datang bersamaku, bukan aku yang menginginkannya tapi kamu yang menginginkan aku untuk tetap di kehidupan duniamu. Dan ketika aku datang untuk melihatmu lagi di tempat ini, aku bukan hanya melihat samudra yang luas tapi aku akan mengenggamnya di tanganku, aku bukan lagi melihat air terjun indah dari pegunungan tapi air terjun itu mengalir untukku, aku bukan hanya melihat langit dan merasakannya tapi aku akan membuatnya melindungiku, aku bukan hanya melihat mereka, tapi aku akan melihat benua mengenggamku, aku akan melihat burung – burung yang terbang dia atasku bernyanyi untukku, aku akan melihat kehidupan dunia mu yang aku inginkan, aku akan membuatnya menjadi kenyataan!!” sesaat setelah itu, dia berlari sekencang – kencangnya dengan tubuhnya yang kecil mungil, telapak kakinya tanpa alas, dia bahkan tak lagi merasakan sakit dari batu – batu sekitarnya, dia bahkan tak lagi merasa sakit dari luka – lukanya dia berusaha turun dari bukit yang tinggi itu, dia berlari dengan nafas harapannya, dia membuat dirinya turun dari tempat yang membuatnya hina itu, dia turun dari tempat yang membuatnya malu itu, dan dia berjanji , pasti akan kembali!!! Anak mungil itu itu turun dari bukit itu, dia berada di sekitar sungai yang airnya mengalir deras. dia melihat sekelilingnya , dia menatap sekitarnya bukan lagi sedih, tapi tatapan bahagia, dia tidak lagi iri dengan mereka, karena dia akan segera membuatnya jadi kenyataan.
Beberapa tahun kemudian, anak mungil itu bukan lagi seorang anak kecil yang di penuhi harapan, dia kembali ke bukit tempat harapannya itu, dia akan mengambil harapannya itu yang di simpannya di tempat itu. Namun, dia pergi dengan jalan berbeda, dia berjalan mengarungi sungai yang deras yang bisa membawanya ke pegunungan air terjun berada dan mati, dia menyusuri hutan yang di penuhi binatang buas yang akan membuat dagingnya hancur sekali lahap, dia berhadapan dengan jurang – jurang yang menganga siap untuk menghisapnya, dia bertahan menyusuri jembatan lapuk di atas sungai, yang dipenuhi dengan buaya – buaya ganas, kemudia dia melewati sebuah tebing – tebing yang tinggi yang ketika dia jatuh dia tidak lagi bersama badannya, kemudian dia mendaki gunung – gunung tinggi tanpa alas kaki,  dia merasakan bagaimana duri – duri rumput itu menusuk – nusuk telapak kakinya hingga terasa sampai ulu hatinya. Dan akhirnya dia sampai, dan seketika itu dia hanyut dalam pandangannya, dia bahkan tak bisa berpijak di atas tanah itu, dia ingin menangis, namun lautan luas pun tak mampu menampung air matanya, dia kemudian berlari di tepi bukit itu. Dan sekarang, dia bisa merasakan dunia membawanya bersamanya, dunia merangkulnya, dia mengenggam samudra itu, sair terjun mengalir untuknya, dia merasakan langit melindunginya, benua benua mengenggam tangannya, dia melihat burung – burung bernyanyi untuknya, dia melihat kehidupan dunia yang dia inginkan dan sekarang menjadi nyata dalam matanya!!! Dan saat itu, dunia tidak mengatakan apapun untuknya, dia hanya melihat laki – laki itu berdiri. Dia berpikir “sekarang, aku datang bukan mengambil harapanku, tapi aku datang untuk menganti mereka dengan kenyataan” dunia hanya berkata “ jika kamu mengantinya dengan kenyataan, maka biarkan dia disini bersamaku, aku akan memberikan mereka kepada orang yang akan datang bertanya padaku lagi, di tempat ini” dan kemudian laki – laki itu turun dari bukit itu , dia turun dengan merasakan setiap titik angin yang menghampirinya, angin kebahagiaan. Dia turun dari bukit itu, dan bisa merasakan gunung – gunung tinggi itu tak lagi berduri untuknya, dia bagai jalan pada sebuah karpet halus dari kain sutra, dia melewati tebing – tebing yang tinggi itu, dan dia merasakan tebing itu akan menangkapnya ketika dia jatuh, dia kembali ke jembatan itu, namun dia tidak lagi melihat jembatan lapuk itu, dia menyadari jembatan itu tak lagi ada, namun dia menemukan sebuah keajaiban, buaya – buaya ganas itu berjejer menjadi jembatan untuknya, dan kemudian dia berhadapan dengan jurang – jurang itu dan jurang – jurang itu menutup untuknya, kemudian dia menyusuri hutan yang di penuhi binatang buas, dan kini tak Nampak satupun binatang itu yang akan memakannya, dan kemudian dia melihat sungai yang mengalir deras itu mengalir dengan indah, menyebarkan kesegarannya, dia tak takut lagi akan terbawa ke air tejun itu, karena air terjun itu hanya mengalir ketika dia ada. Dan sekarang, dia bukan lagi setetes atau segerombolan air kotor di lumpur kotor, dia menjadi setitik embun pada daun bunga indah yang mekar, dia tidak lagi dipenuhi dengan kekotoran dan kegelapan, tapi dia menjadi setitik embun segar di pagi hari yang akan menyebarkan kebahagiaan untuk orang – orang sekitarnya.

-         THE END -

                                                                

Tidak ada komentar:

Posting Komentar