Kamis, 06 juni 2013
A FIGHT WITH WORLD
OLEH : Nining
Irianti
Kisah anak kecil
laki – laki berusia 8 tahun, dia hidup seperti air mengalir. Ketika hujan
datang dia menjadi lumpur, ketika banjir datang, dia menjadi air menjijikkan
dan dia tidak pernah tahu bagaimana menjadi air sungai yang segar, bagaimana
air terjun mengalir jatuh dari pegunungan. Dia selalu mengalir dalam kekotoran
dan kegelapan, ketika badai datang dia terbawa olehnya mengikuti arus, namun
yang membingungkan dirinya kenapa dia selalu merasakan kekotoran itu, kegelapan
itu, dia selalu menjadi kotor dari yang kotor, menanggung kekelaman, kepahitan,
dia cair, dia selalu mengikuti dimana dia berada. Hidup sendiri dalam dunia,
dunia menjauhkannya, dunia menjauhkan dia dari sekitarnya. “Hidup yang seperti
apa yang di inginkan dunia? Jika hanya satu – satunya tempat ini untukku bisa
hidup, hidup seperti apa yang diinginkan dunia untukku?” dia terus memikirkan
itu dia ingin menjadi seperti air di sungai hidup dalam ketentraman, mengalir
dari pegunungan indah dan terus ke laut bebas bersama ikan – ikan indah dan
batu karang. Dia tidak ingin seperti air yang menjadi lumpur saat hujan, bukan!!!
dia mungkin tanah yang di tetesi air dan kemudian menjadi air yang kotor, dia
hanya menjadi sesuatu yang kotor dari sesuatu yang benar bagus, ketika sesuatu
yang bagus bersamanya, dia akan menjadi sesuatu itu, namun sesuatu tersebut tak
ingin bersamanya dan menjadi sesuatu yang kotor. Suatu hari, ketika dia naik di
sebuah bukit, bukit yang sangat tinggi dan indah, dia mencapainya seorang diri,
dia berjalan menyusuri sungai, dan mendaki gunung tinggi, dan kemudian dia
sampai pada puncak gunung itu, puncak gunung yang sangat tinggi itu, dari atas
dia bisa melihat samudra yang terbentang luas,air terjun yang indah di bawanya
mengalir indah, dia bisa merasakan angina bertiup di sekelilingnya, dia
merebahkan sayapnya, layaknya seekor burung yang akan terbang bebas dalam
dunianya. Dia melihat langit yang biru di atasnya terbentang, dia merasakan
keindahan yang tidak pernah di rasakan, yang selama ini tidak dia rasakan, bahkan merasakan langit terbentang dia tidak
pernah merasakan. Dan ketika itu, dia berpikir , “sekarang, dunia membawaku ke
sini, dia membawaku untuk memperlihatkan indah nya yang dia miliki, dia
memberitahuku kehidupan dalam dunianya, tapi dia tidak memberitahuku caranya
untuk sampai ke kehidupan itu” dan dunia itu berbicara padanya “untuk sampai ke
kehidupan yang kamu inginkan, ada beribu cara, berjuta. Bermiliyar, bahkan tak
terhingga, tapi dia antara cara tersebut hanya ada satu cara terbaik yang
paling terbaik dari yang trebaik, yang akan membawamu dalam sesuatu yang tidak
akan dunia percaya, ketika kamu berjalan ke bukit ini, kamu hanya melewati
jalan yang biasa orang lalui, dan ketika itu kamu hanya bisa melihat sungai dan
air terjun yang tidak mau melihat kamu” dan anak itu mulai berpikir, “jika itu
yang harus ku lakukan untuk mendapatkan kehidupan di duniamu, aku akan
melakukannya. Tapi bukan seperti apa yang kamu beritahu kepada setiap orang
yang datang kesini yang menanyakannya padamu, aku akan melakukan dengan caraku
sendiri, jika dunia itu seperti yang kamu katakan, jika dunia itu rumit seperti
yang kamu katakan, jika sulit untuk bersamamu, aku akan mengubah cara itu.
Bukan aku yang akan membawamu bersamaku suatu saat nanti, tapi kamu yang datang
bersamaku, bukan aku yang menginginkannya tapi kamu yang menginginkan aku untuk
tetap di kehidupan duniamu. Dan ketika aku datang untuk melihatmu lagi di
tempat ini, aku bukan hanya melihat samudra yang luas tapi aku akan
mengenggamnya di tanganku, aku bukan lagi melihat air terjun indah dari
pegunungan tapi air terjun itu mengalir untukku, aku bukan hanya melihat langit
dan merasakannya tapi aku akan membuatnya melindungiku, aku bukan hanya melihat
mereka, tapi aku akan melihat benua mengenggamku, aku akan melihat burung –
burung yang terbang dia atasku bernyanyi untukku, aku akan melihat kehidupan
dunia mu yang aku inginkan, aku akan membuatnya menjadi kenyataan!!” sesaat
setelah itu, dia berlari sekencang – kencangnya dengan tubuhnya yang kecil
mungil, telapak kakinya tanpa alas, dia bahkan tak lagi merasakan sakit dari
batu – batu sekitarnya, dia bahkan tak lagi merasa sakit dari luka – lukanya
dia berusaha turun dari bukit yang tinggi itu, dia berlari dengan nafas
harapannya, dia membuat dirinya turun dari tempat yang membuatnya hina itu, dia
turun dari tempat yang membuatnya malu itu, dan dia berjanji , pasti akan
kembali!!! Anak mungil itu itu turun dari bukit itu, dia berada di sekitar
sungai yang airnya mengalir deras. dia melihat sekelilingnya , dia menatap
sekitarnya bukan lagi sedih, tapi tatapan bahagia, dia tidak lagi iri dengan
mereka, karena dia akan segera membuatnya jadi kenyataan.
Beberapa tahun
kemudian, anak mungil itu bukan lagi seorang anak kecil yang di penuhi harapan,
dia kembali ke bukit tempat harapannya itu, dia akan mengambil harapannya itu
yang di simpannya di tempat itu. Namun, dia pergi dengan jalan berbeda, dia
berjalan mengarungi sungai yang deras yang bisa membawanya ke pegunungan air
terjun berada dan mati, dia menyusuri hutan yang di penuhi binatang buas yang
akan membuat dagingnya hancur sekali lahap, dia berhadapan dengan jurang –
jurang yang menganga siap untuk menghisapnya, dia bertahan menyusuri jembatan
lapuk di atas sungai, yang dipenuhi dengan buaya – buaya ganas, kemudia dia
melewati sebuah tebing – tebing yang tinggi yang ketika dia jatuh dia tidak
lagi bersama badannya, kemudian dia mendaki gunung – gunung tinggi tanpa alas
kaki, dia merasakan bagaimana duri –
duri rumput itu menusuk – nusuk telapak kakinya hingga terasa sampai ulu
hatinya. Dan akhirnya dia sampai, dan seketika itu dia hanyut dalam
pandangannya, dia bahkan tak bisa berpijak di atas tanah itu, dia ingin
menangis, namun lautan luas pun tak mampu menampung air matanya, dia kemudian
berlari di tepi bukit itu. Dan sekarang, dia bisa merasakan dunia membawanya
bersamanya, dunia merangkulnya, dia mengenggam samudra itu, sair terjun
mengalir untuknya, dia merasakan langit melindunginya, benua benua mengenggam
tangannya, dia melihat burung – burung bernyanyi untuknya, dia melihat
kehidupan dunia yang dia inginkan dan sekarang menjadi nyata dalam matanya!!!
Dan saat itu, dunia tidak mengatakan apapun untuknya, dia hanya melihat laki –
laki itu berdiri. Dia berpikir “sekarang, aku datang bukan mengambil harapanku,
tapi aku datang untuk menganti mereka dengan kenyataan” dunia hanya berkata “
jika kamu mengantinya dengan kenyataan, maka biarkan dia disini bersamaku, aku
akan memberikan mereka kepada orang yang akan datang bertanya padaku lagi, di
tempat ini” dan kemudian laki – laki itu turun dari bukit itu , dia turun
dengan merasakan setiap titik angin yang menghampirinya, angin kebahagiaan. Dia
turun dari bukit itu, dan bisa merasakan gunung – gunung tinggi itu tak lagi
berduri untuknya, dia bagai jalan pada sebuah karpet halus dari kain sutra, dia
melewati tebing – tebing yang tinggi itu, dan dia merasakan tebing itu akan
menangkapnya ketika dia jatuh, dia kembali ke jembatan itu, namun dia tidak
lagi melihat jembatan lapuk itu, dia menyadari jembatan itu tak lagi ada, namun
dia menemukan sebuah keajaiban, buaya – buaya ganas itu berjejer menjadi
jembatan untuknya, dan kemudian dia berhadapan dengan jurang – jurang itu dan
jurang – jurang itu menutup untuknya, kemudian dia menyusuri hutan yang di
penuhi binatang buas, dan kini tak Nampak satupun binatang itu yang akan
memakannya, dan kemudian dia melihat sungai yang mengalir deras itu mengalir
dengan indah, menyebarkan kesegarannya, dia tak takut lagi akan terbawa ke air
tejun itu, karena air terjun itu hanya mengalir ketika dia ada. Dan sekarang,
dia bukan lagi setetes atau segerombolan air kotor di lumpur kotor, dia menjadi
setitik embun pada daun bunga indah yang mekar, dia tidak lagi dipenuhi dengan
kekotoran dan kegelapan, tapi dia menjadi setitik embun segar di pagi hari yang
akan menyebarkan kebahagiaan untuk orang – orang sekitarnya.
-
THE END -
Tidak ada komentar:
Posting Komentar