Minggu, 24 Juli 2016

Story : My Little Friend #Chapter3

#CHAPTER 3

Suasana rumah dennis sangat sibuk, dia harus sebisa mungkin untuk mengejar waktu. 30 menit lagi pertandingan akan di mulai.
“mom!!” teriak dennis memangggil mommy nya
“your daddy and mommy had gone to the game” jawab pengasuh rumah mereka Miss. renata
“apa? Udah berangkat? Keterlaluan.” Umpat dennis
“I must go now. bye!” Pamit dennis dengan terburu – buru
Dennis, segera ke depan rumah untuk mengambil sepedanya.
“aduh, masa aku harus naik sepeda. Pertandingan 20 menit lagi.”batin dennis
“naik taksi.” Kata dennis pada dirinya
“tapi uangnya?,” kata dennis lagi
Siang yang begitu panas, dennis terpaksa harus mengendarai sepedanya dengan cepat untuk mengejar waktu. 15 menit lagi pertandingan akan dimulai. Dan dennis baru menempuh setengah perjalanan. Dengan sangat terburu – buru dia mengayuh sepedanya. Dan 20 menit dia pun sampai pada pertandingan, dan dia terlambat 5 menit. Dengan sangat terburu – buru dia menghampiri pak haryo pelatihnya.
“dennis, kamu dari mana saja. Kita dari tadi nungguin kamu” kata pak haryo dengan marah pada dennis
“maaf pak. Tadi saya terlambat bangun” jawab dennis dengan menunduk
“ok. Udah. Kamu gantian cepat. Sebentar lagi akan ada pergantian pemain. Kamu nanti gantiin deri. Ayo cepat” kata pak haryo pada dennnis
Dennis segera menuju ruang ganti. Dan tiba – tiba dia melihat orang tuanya dan orang tua arin sedang duduk di bangku penonton untuk menyemangatinya. Dan terlihat arin di tengah – tengah mereka. Dennis sangat malu pada dirinya yang tidak bisa mempersembahkan yang terbaik untuk orang – orang yan ia sayangi.
Dan setelah beberapa menit. Dennis pun masuk ke lapangan. Penonton yang mendukungnya pun berteriak memberikan semangat padanya.
“kakak fighting. You can do it . Ganbatte !” teriak arin begitu keras
“dasar anak kecil. Suara dan tubuh sangat tidak sesuai.” Batin dennis dan dia tersenyum mendengarnya
Dennis pun mulai bemain. Timnya ketinggalan 10 angka dari tim lawan. Dia dan timnya harus ekstra kerja keras untuk mengejar ketertinggalan. Dan akhirnya dennis berhasil memasukkan bola dengan poin 3 angka yang memperkecil ketinggalan mereka. Namun, tim lawannya juga memasukkan bola poin 3 angka. Dan babak pertama pun telah usai, 25 – 15 untuk tim lawan.
“ayo, kalian pasti bisa. Ayo semangat!” kata pak haryo pada tim dennis
“dennis, bapak berharap kamu bisa memperkecil ketinggalan. Bapak yakin dengan kemampuan kamu. Bapak sudah dengar semuanya, jadikan ini kado terbaik sebelum kamu berangkat walaupun hanya babak penyisihan” kata pak haryo pada dennis
“dennis, ayo semangat. Waktu kita bersama hanya tinggal 1 minggu lagi. Ini sanagt menyakitkan.” Balas aldi dengan gayanya yang unik sambil memukul dadanya
Babak kedua pun dimulai. Dennis menggiring bola dengan sangat keren dan dia berhasil memasukkan bola dengan poin 3 angka. Waktu terus berjalan, mereka terus berusaha untuk bisa memasukkan bola ke dalam ring dengan waktu yang cepat. Dan babak kedua dan ketiga pun selesai. Dan skor 90 – 80 untuk tim lawan.
“kalau begini terus kita bisa kalah” dennis memulai pembicaraan
“apa yang harus kita lakukan, kita tertinggal jauh. Dan kita tidak mungkin bisa menyusul mereka dengan waktu yang begitu singkat. Dan kemampuan mereka jauh bagus dari kita. Harapan kita satu – satunya hanya KEAJAIBAN.” Tegas heri
“kita seharusnya jangan putus asa. Kita tetap harus focus. Dan KEAJAIBAN itu bisa terjadi kalau kita yakin.” Jawab dennis dengan percaya diri
Pluit wasit pun berbunyi. Dan kedua tim bersiap – siap di pinggir lapangan. Dan akhirnya pertandingan pun di mulai. Nilai pertama untuk tim dennis. Skor menjadi 82 – 90. Dan tim lawan pun mengambil alih bola dan menggiringnya ke ring basket lawan mereka, dan akhirnya mereka gagal memasukkan bola. Dan bergantian, tim dennis pun mulai mengoper bola yang di wakilkan oleh heri, heri mengoper bola ke dennis untuk mengambil alih shoot. Dan akhirnya lagi dennis berhasil memasukkan poin 3 angka. Dan skor menjadi 85 – 90. Tim dennis pun berusaha mengejar ketinggalan sampai akhirnya skor menjadi 95 – 93 untuk tim lawan. Waktu tersisa 10 menit. Dennis mulai merebut bola dan berhasil memasukkan poin 3 angka yang kesekian kalinya. Tim lawan menggiring bola ke ring, dan melakukan lay up. Skor menjadi 97 – 96 untuk tim lawan. Waktu tersisa 3 menit lagi. Dennis berusaha memasukkan poin tiga angka namun gagal. Dan bola pun berpindah ke lawan, namun gagal juga. Dan waktu tinggal 2 menit. Dan bola berpindah ke tim dennis. Aldi mulai, menggiring bola ke arah ring dan waktu tinggal 1 menit dan akhirnya aldi berhasil memasukkan bola dengan poin 3 angka. Skor menjadi 99 – 97. Bola berpindah ke tim lawan, dennis dan teman – teman berusaha mempertahankan pertahanan mereka, dan bola berpindah lagi ke tim dennis. Heri menguasai bola, karena waktu yang tinggal 30 detik dengan terburu – buru heri menggiring bola dan pada jarak 2 meter dari ring lawan dan pada detik ke – 5 heri berhasil memasukkan bola dengan poin 3 angka, dan papan skor pun berubah 102 – 97 untuk tim dennis. Dan wasitpun meniup pluit pertanda, pertandingan selesai dan kemenangan untuk tim dennis, seketika gedung pun ribut di penuhi sorak – sorai dari pendukung tim 84BB. Saat itu, terlukis senyum indah pada bibir kecil dennis menggambarkan suasana hatinya yang sangat senang. Dia sangat senang, akhirnya ia bisa melakukan yang terbaik untuk timnya sebelum dia meninggalkan semuanya.
“heri, kamu memang penyelamat untuk tim kita. Kamu memang pahlawan.” Ucap dennis pada heri
“huh, aku hanya perantara. Kamu yang sebenarnya hebat” jawab heri dengan kaget sambil menepuk pundak dennis dengan bangga
“pokoknya kalian semua hebat. Selamat yah” ucap pah haryo dengan bangga
Di tengah kesenangan dan kemenangan tersebut, terselip kesedihan dennis yang mendalam. Minggu depan dia harus meninggalkan Indonesia, sekolahnya, guru – gurunya, teman – temannya, tim 84BM, dan tentu saja Arin.
Dennis tidak membuang – buang waktu, ia segera menghampiri arin dan keluarganya yang telah menunggunya di barisan penonton.

**

Panas mencekam siang hari kota Jakarta, langit begitu cerah, polusi dimana dan kemacetan membuat udara tak di hirup. Dennis sangat ingin segera sampai, ia tidak bisa lagi bertahan dalam situasi yang sangat membuat penderitaan. Benar – benar sangat panas, dia berdoa agar hujan turun membasahi seluruh kota Jakarta.
“mom, kita kapan sampainya” dennis tidak berpaling dari PSP yang dari tadi dia mainkan di dalam mobil untuk menghilangkan kegelisahannya. Jantungnya seakan tidak bisa bernapas.
“sebentar lagi” jawab mommy dennis dengan tenang
“aduh, kenapa panas begini, apa kota ini marah karena kita akan meninggalkannya. Perasaan panas ini dari tadi seperti hanya menimpaku” dennis langsung berpaling dari PSPnya dan menoleh ke mommy nya yang dari tadi tenang tanpa merasakan apapun.
“itu hanya perasaan kamu”
Dennis kembali memainkan PSPnya dan kemacetan semakin menjebak mereka, keramaian kota Jakarta betul – betul membuat pusing, dennis rasanya ingin muntah. Polusi dimana – dimana, suara bising kendaraan, di tambah lagi suasana hatinya yang buruk. Dia benar – benar kehilangan ketenangannya. Kepalanya yang berdenyut, rasa mual. Dia akhirnya keluar dari mobil. “Mom, dennis keluar sebentar cari angin” dennis pada mommy nya
“tapi kamu jangan lama – lama”
“1 jam, mobilnya juga belum jalan”
Seketika, dennis membuka pintu mobil dan merasakan penyiksaan sesungguhnya. Benar – benar panas, dia tidak sanggup bernapas dengan polusi – polusi itu, seakan hidungnya menolak untuk menyaring udara itu. Benar – benar hari yang sangat menjengkelkan. Dia beristirahat di bawah pohon, namun masih saja suasana itu terasa. “ Akgh, benar – benar ….” Umpat dennis
“dennis!” dennis seakan mengenali suara yang memangilnya itu, yah itu suara heri
Dennis mencari arah sumber suara. Dan ternyata kembar kocak itu, mereka ada juga.
“ kamu ngapain disini?” Tanya aldi
“heri, gimana tim basket?” dennis mengabaikan aldi dan bertanya pada heri
“dennis, kau tidak perduli lagi”? aldi mulai marah pada dennis
“menurutmu, aku lagi bikin apa?” dennis bertanya dengan suara lucu dengan temannya itu
“duduk – duduk, istirahat, tunggu seseorang dan ….” Jawab aldi
“kenapa kau jawab? Dia mempermainkanmu!” ardi menyadarkan saudara kembarnya itu sambil tertawa melihat kepolosannya
“sekalipun anak kembar, kalian memang berbeda.” Heri menatap saudara kembar itu. “oh, tim basket kita, aku yang jadi kapten!” heri menjawab pertanyaan dennis yang sedari tadi belum dijawab
“aku yakin kau bisa melakukan yang terbaik. Aku percaya kemampuanmu. Dan 5 hari lagi aku akan berangkat ke jerman. Aku memutuskan keluar dengan cepat, aku ingin menghabiskan waktuku di sini untuk menggunakan hal – hal yang aku sukai” dennis menyampaikan isi hatinya pada teman – temanya
“kami tahu itu. Tapi Basket”? Tanya heri
“aku sangat suka. Tapi ada sesuatu yang lebih penting” jawab dennis denga tatapan kosong memandang daun – daun di sekitar taman
“apakah itu cewek – cewek yang kagum sama kamu”? Tanya aldi
“bukan. Dia adalah seorang yang sangat aku sayangi, dia sangat cantik, pintar, baik, ceria, dia….” Dennis menghentikan pembicaraannya. “ hei, kenapa kalian menatapku seperti itu”?
“kita terbawa dengan lamunanmu tentang dia. Dan sepertinya kita tidak akan mendengar itu lagi” jawab heri dan berdiri dari tempat
“heri, ada apa?” Tanya aldi
“kita akan BERSENANG – SENANG” teriak heri dengan mengangkat tangan kirinya ke atas dengan ekspresi yang sangat gembira
“itu kesenanganmu, bukan kami” dennis tertawa geli. “ hei, aku lupa. Mommy menungguku di mobil. Aku tadi keluar dari mobil, dan dia menungguku. Jangan – jangan …..” dennis berlari kea rah mobil mommy nya yang terjebak macet. Dan teman – temannya mengikuti dari belakang. Dennis mencari – cari mobil avanza merah milik mommy nya. Dia tidak menemukannya.
“dennis, kau ikut kita – kita. Kita BERSENANG – SENANG” teriak heri lagi di tengah mobil – mobil di jalan yang terjebak macet. Dan membuat pemilik mobil itu berbalik ke arahnya dan melihat dengan tatapan sinis. Dan mereka segera lari dari tempat itu, dan mencari tempat aman.

***

“dennis, ayo bangun. Kamu tidak mau ke rumah arin” mommy dennis memukul dennis untuk bangun
“rumah arin? Aku capek.”
“kamu sih, mommy tungguin tadi di mobil malah kabur. Mommy udah bilang jangan lama – lama”
“tapi kan ma, mama bisa tungguin dennis” dennis seraya bangun membantah ucapan mamanya dengan muka marah
“kamu mau mama di lempar sama orang – orang, gara – gara mobil mama tidak jalan. Dan mobil mereka tidak bisa lewat sementara di depan jalanan kosong” omel mama dennis sambil merapikan tempat tidur dennis
“tapi, mama bisa tunggu aku di tempat lain, dan kabarin aku” dennis mengambil handuknya dan menuju kamar mandi
“udah, mandi cepat. Udah malam.”

Dennis memakai celana jins panjang, dan kemeja putih. Dia terlihat sangat tampan. Dia bak seorang pangeran yang akan bertemu dengan putrinya. Dennis tertawa sendiri mengingat itu.
“dennis, kita sudah sampai”
“ok ma”
Dennis membunyikan bel rumah arin. Dan pintu terbuka. Berdiri seorang perempuan berbaju tidur dengan boneka hello kitty di tangannya.” Konbanwa” ucap arin dengan logat bahasa jepang yang kental
“haii, konbanwa” jawab dennis
“hahaha. Kak dennis lucu”. Arin tertawa geli melihat dennis berbahasa jepang juga.” Tante, silahkan masuk. Mama dan papa ada di dalam”
Mama papa dennis masuk ke dalam rumah, dan dennis bermain bersama arin di depan rumah. Mereka begitu senang dan bahagia. Arin sangat cantik dan dennis begitu tampan dengan kemejanya.
“kak, kita duduk di taman yah”
Dennis duduk di samping arin.”ada yang mau kakak bicarakan”
“apa kak?” arin tidak menoleh pada dennis dia menatap bintang
“4 hari lagi kakak akan ke jerman!” dennis menunduk
Hati arin seakan di tusuk – tusuk, dia tidak bisa bernapas. Begitu pilu. Pernyataan dennis seakan petir menyambar di sekelilignya, ia bagai tidak bisa hidup semua bagian tubuhnya tidak bisa berfungsi, tidak mampu menjalankan tugasnya masing – masing.
“kakak maaf tapi kakak …”
Dennis belum sempat melanjutkan ucapannya, arin memotong pembicaraannya, “kakak, mau aku berubah tidak mengenal kakak lagi” seketika itu air mata arin jatun membasahi pipinya yang mulus tanpa noda.” Kakak, akan meninggalkanku sendirian. Aku tidak bisa hidup. Kakak tahu, aku seperti sekarang ini karena kakak. Kakak juga tahu, 7 tahun lalu sebelum aku bertemu kakak, aku kehilangan kakak laki – lakiku yang sangat aku sayangi. Dan sekarang kaka, mela akukannya lagi” arin menangis sekeras – kerasnya, ia tidak bisa menahan semua kesakitannya malam itu. Ia seperti tidak ingin hidup lagi.
Dennis merasa sangat bersalah telah berkata seperti itu, tapi ia berpikir, ia baru menyadari betapa sangat dewasanya arin. Ia tidak menyangka adiknya yang dia kenal selama ini, bisa berkata seperti itu yang tidak pernah ia duga. Arin yang polos, lucu, dan imut. Dennis benar – benar tidak pernah  menyadari selama ini sifat yang di tunjukkan arin menunjukkan betapa senangnya ia bisa bertemu dengan dirinya, arin selalu mencari perhatian terhadap kakaknya karena ia sangat butuh perhatian. Arin benar – benar kesepian, dan malam itu arin menunjukkan bahwa sebenarnya dia adalah seorang anak imut yang benar – benar dewasa. Dennis benar – benar tidak mengenal arin sepenuhnya. Dennis menatap kosong kearah arin, dia sangat ingin menangis, namun tertahan oleh rasa bersalahnya yang menumpuk di dada, rasa – rasanya dia ingin memukul dirinya sendiri. 4 tahun adalah bukan jaminan untuk dennis mengenal arin sepenuhnya.
“kakak, benar – benar minta maaf, kakak tidak tahu kalau ini juga akan terjadi” dennis masih dengan tatapan kosongnya
“tapi, kakak bisa membunuhku”
Dennis benar – benar tidak percaya, ia bagaikan berbicara dengan seumurnya.”kakak, akan menjelaskannya” dennis menyandarkan kepala arin dipundaknya dia berusaha menenangkan adiknya.”kakak, sangat sayang sama arin, kakak tidak akan mau kehilangan kamu. Kamu harus percaya apa yang kakak bilang. Tapi, kakak harus pergi bukan karena kakak akan melupakanmu tapi karena kakak harus mencari kebahagiaan untukmu, kakak yakin kamu mengerti apa yang kakak maksud, kamu bukan anak kecil, kamu gadis yang pintar kita pasti akan bertemu lagi. Kakak yakin itu”
“aku sayang sama kakak, aku percaya apa yang kakak bilang, dan aku senang kakak mengerti aku. Dan yang pasti kita pasti bertemu.” Arin masih menyandarkan kepalanya pada pundak dennis
“benar – benar tak terduga, pikiran kakak setelah kakak bilang begini. Kamu akan berteriak bertanya mengapa kakak pergi dan lain – lain” dennis menatap arin yang masih bersandar di pundaknya, dan tatapannya membuat arin mengangkat kepalanya dan menatap dennis.
“kakak yang buatku berubah”
“kamu bukan berubah, tapi aslimu baru keluar, heheheh”. Dennis berusaha mencairkan suasana dengan membuat sebuah lelucon kecil
“kak, kalungnya aku apain”? arin menunjukkan kalung yang pernah diberikan dennis sewaktu mereka piknik di pantai
“yah, kalung!” dennis juga melepaskan kalung itu dari lehernya.”kalung ini, untuk kamu dan kalungmu buat aku. Aku mau kalung ini kamu berikan lagi pada kakak saat kita ketemu lagi. Walaupun kalungnya sama ada foto kita berdua. Tapi, di belakang mainan itu nama kita masing  masing udah ditulis. Dan kamu simpan kalungku”
Arin hanya diam. Dia tidak percaya apa yang barusan dennis katakan, mereka memang benar – benar akan berpisah. Dan arin tahu, itu bukan satu atau dua tahun, tapi lima tahun bahkan lebih. Arin, harus merelakan semua itu, dia tidak mungkin menangis meraung – raung di depan dennis atau depan orang tua dennis berharap mereka membatalkan rencana mereka. Arin tidak akan , melakukan hal sebodoh dan segila itu.”kak, nanti kalau kita bertemu lagi, kakak mau aku seperti apa? Seperti anak yang lucu dan imut atau seperti sekarang yang dewasa?”
“entahlah. Yang terpenting kamu harus mengikuti perintahku. Kita tetap akan berkomunikasi.”
“kakak tidak akan bertemu gadis seperti aku di jerman kan?”
“dasar!.dennis menunjukkan senyum mengerikannya.”Mana ada gadis seperti mu di jerman. Kamu itu sangat langka”
“kak, tapi apa yang aku lakukan kalau aku rindu sama kakak”
“aku tahu kamu berbohong lagi.” Dennis membalikkan badan adiknya ke arahnya agar adiknya memperhatikannya.”kakak, tahu. Kamu tahu apa yang kamu harus lakukan”
“hai” arin menjawab tegas dengan gaya khas jepangnya

Malam itu adalah malam yang benar – benar di harapkan oleh arin, sangat menyenangkan bisa berbicara dengan dennis dalam suasana yang berbeda. Mereka berbicara bak sepasang kekasih yang sebaya, bukan sebagai kakaknya.
***