#CHAPTER 3
Suasana rumah dennis
sangat sibuk, dia harus sebisa mungkin untuk mengejar waktu. 30 menit lagi
pertandingan akan di mulai.
“mom!!” teriak dennis
memangggil mommy nya
“your daddy and mommy
had gone to the game” jawab pengasuh rumah mereka Miss. renata
“apa? Udah berangkat?
Keterlaluan.” Umpat dennis
“I must go now. bye!”
Pamit dennis dengan terburu – buru
Dennis, segera ke depan
rumah untuk mengambil sepedanya.
“aduh, masa aku harus
naik sepeda. Pertandingan 20 menit lagi.”batin dennis
“naik taksi.” Kata
dennis pada dirinya
“tapi uangnya?,” kata
dennis lagi
Siang yang begitu
panas, dennis terpaksa harus mengendarai sepedanya dengan cepat untuk mengejar waktu.
15 menit lagi pertandingan akan dimulai. Dan dennis baru menempuh setengah
perjalanan. Dengan sangat terburu – buru dia mengayuh sepedanya. Dan 20 menit
dia pun sampai pada pertandingan, dan dia terlambat 5 menit. Dengan sangat
terburu – buru dia menghampiri pak haryo pelatihnya.
“dennis, kamu dari mana
saja. Kita dari tadi nungguin kamu” kata pak haryo dengan marah pada dennis
“maaf pak. Tadi saya
terlambat bangun” jawab dennis dengan menunduk
“ok. Udah. Kamu gantian
cepat. Sebentar lagi akan ada pergantian pemain. Kamu nanti gantiin deri. Ayo
cepat” kata pak haryo pada dennnis
Dennis segera menuju
ruang ganti. Dan tiba – tiba dia melihat orang tuanya dan orang tua arin sedang
duduk di bangku penonton untuk menyemangatinya. Dan terlihat arin di tengah –
tengah mereka. Dennis sangat malu pada dirinya yang tidak bisa mempersembahkan
yang terbaik untuk orang – orang yan ia sayangi.
Dan setelah beberapa menit.
Dennis pun masuk ke lapangan. Penonton yang mendukungnya pun berteriak
memberikan semangat padanya.
“kakak fighting. You
can do it . Ganbatte !” teriak arin begitu keras
“dasar anak kecil.
Suara dan tubuh sangat tidak sesuai.” Batin dennis dan dia tersenyum
mendengarnya
Dennis pun mulai
bemain. Timnya ketinggalan 10 angka dari tim lawan. Dia dan timnya harus ekstra
kerja keras untuk mengejar ketertinggalan. Dan akhirnya dennis berhasil
memasukkan bola dengan poin 3 angka yang memperkecil ketinggalan mereka. Namun,
tim lawannya juga memasukkan bola poin 3 angka. Dan babak pertama pun telah
usai, 25 – 15 untuk tim lawan.
“ayo, kalian pasti
bisa. Ayo semangat!” kata pak haryo pada tim dennis
“dennis, bapak berharap
kamu bisa memperkecil ketinggalan. Bapak yakin dengan kemampuan kamu. Bapak
sudah dengar semuanya, jadikan ini kado terbaik sebelum kamu berangkat walaupun
hanya babak penyisihan” kata pak haryo pada dennis
“dennis, ayo semangat.
Waktu kita bersama hanya tinggal 1 minggu lagi. Ini sanagt menyakitkan.” Balas
aldi dengan gayanya yang unik sambil memukul dadanya
Babak kedua pun
dimulai. Dennis menggiring bola dengan sangat keren dan dia berhasil memasukkan
bola dengan poin 3 angka. Waktu terus berjalan, mereka terus berusaha untuk
bisa memasukkan bola ke dalam ring dengan waktu yang cepat. Dan babak kedua dan
ketiga pun selesai. Dan skor 90 – 80 untuk tim lawan.
“kalau begini terus
kita bisa kalah” dennis memulai pembicaraan
“apa yang harus kita
lakukan, kita tertinggal jauh. Dan kita tidak mungkin bisa menyusul mereka
dengan waktu yang begitu singkat. Dan kemampuan mereka jauh bagus dari kita.
Harapan kita satu – satunya hanya KEAJAIBAN.” Tegas heri
“kita seharusnya jangan
putus asa. Kita tetap harus focus. Dan KEAJAIBAN itu bisa terjadi kalau kita
yakin.” Jawab dennis dengan percaya diri
Pluit wasit pun
berbunyi. Dan kedua tim bersiap – siap di pinggir lapangan. Dan akhirnya
pertandingan pun di mulai. Nilai pertama untuk tim dennis. Skor menjadi 82 –
90. Dan tim lawan pun mengambil alih bola dan menggiringnya ke ring basket
lawan mereka, dan akhirnya mereka gagal memasukkan bola. Dan bergantian, tim
dennis pun mulai mengoper bola yang di wakilkan oleh heri, heri mengoper bola
ke dennis untuk mengambil alih shoot. Dan akhirnya lagi dennis berhasil
memasukkan poin 3 angka. Dan skor menjadi 85 – 90. Tim dennis pun berusaha
mengejar ketinggalan sampai akhirnya skor menjadi 95 – 93 untuk tim lawan.
Waktu tersisa 10 menit. Dennis mulai merebut bola dan berhasil memasukkan poin
3 angka yang kesekian kalinya. Tim lawan menggiring bola ke ring, dan melakukan
lay up. Skor menjadi 97 – 96 untuk tim lawan. Waktu tersisa 3 menit lagi.
Dennis berusaha memasukkan poin tiga angka namun gagal. Dan bola pun berpindah
ke lawan, namun gagal juga. Dan waktu tinggal 2 menit. Dan bola berpindah ke
tim dennis. Aldi mulai, menggiring bola ke arah ring dan waktu tinggal 1 menit
dan akhirnya aldi berhasil memasukkan bola dengan poin 3 angka. Skor menjadi 99
– 97. Bola berpindah ke tim lawan, dennis dan teman – teman berusaha
mempertahankan pertahanan mereka, dan bola berpindah lagi ke tim dennis. Heri
menguasai bola, karena waktu yang tinggal 30 detik dengan terburu – buru heri
menggiring bola dan pada jarak 2 meter dari ring lawan dan pada detik ke – 5
heri berhasil memasukkan bola dengan poin 3 angka, dan papan skor pun berubah
102 – 97 untuk tim dennis. Dan wasitpun meniup pluit pertanda, pertandingan
selesai dan kemenangan untuk tim dennis, seketika gedung pun ribut di penuhi
sorak – sorai dari pendukung tim 84BB. Saat itu, terlukis senyum indah pada
bibir kecil dennis menggambarkan suasana hatinya yang sangat senang. Dia sangat
senang, akhirnya ia bisa melakukan yang terbaik untuk timnya sebelum dia
meninggalkan semuanya.
“heri, kamu memang
penyelamat untuk tim kita. Kamu memang pahlawan.” Ucap dennis pada heri
“huh, aku hanya
perantara. Kamu yang sebenarnya hebat” jawab heri dengan kaget sambil menepuk
pundak dennis dengan bangga
“pokoknya kalian semua
hebat. Selamat yah” ucap pah haryo dengan bangga
Di tengah kesenangan
dan kemenangan tersebut, terselip kesedihan dennis yang mendalam. Minggu depan
dia harus meninggalkan Indonesia, sekolahnya, guru – gurunya, teman – temannya,
tim 84BM, dan tentu saja Arin.
Dennis tidak membuang –
buang waktu, ia segera menghampiri arin dan keluarganya yang telah menunggunya
di barisan penonton.
**
Panas mencekam siang
hari kota Jakarta, langit begitu cerah, polusi dimana dan kemacetan membuat
udara tak di hirup. Dennis sangat ingin segera sampai, ia tidak bisa lagi
bertahan dalam situasi yang sangat membuat penderitaan. Benar – benar sangat
panas, dia berdoa agar hujan turun membasahi seluruh kota Jakarta.
“mom, kita kapan
sampainya” dennis tidak berpaling dari PSP yang dari tadi dia mainkan di dalam
mobil untuk menghilangkan kegelisahannya. Jantungnya seakan tidak bisa
bernapas.
“sebentar lagi” jawab
mommy dennis dengan tenang
“aduh, kenapa panas
begini, apa kota ini marah karena kita akan meninggalkannya. Perasaan panas ini
dari tadi seperti hanya menimpaku” dennis langsung berpaling dari PSPnya dan
menoleh ke mommy nya yang dari tadi tenang tanpa merasakan apapun.
“itu hanya perasaan
kamu”
Dennis kembali
memainkan PSPnya dan kemacetan semakin menjebak mereka, keramaian kota Jakarta
betul – betul membuat pusing, dennis rasanya ingin muntah. Polusi dimana –
dimana, suara bising kendaraan, di tambah lagi suasana hatinya yang buruk. Dia
benar – benar kehilangan ketenangannya. Kepalanya yang berdenyut, rasa mual.
Dia akhirnya keluar dari mobil. “Mom, dennis keluar sebentar cari angin” dennis
pada mommy nya
“tapi kamu jangan lama
– lama”
“1 jam, mobilnya juga
belum jalan”
Seketika, dennis
membuka pintu mobil dan merasakan penyiksaan sesungguhnya. Benar – benar panas,
dia tidak sanggup bernapas dengan polusi – polusi itu, seakan hidungnya menolak
untuk menyaring udara itu. Benar – benar hari yang sangat menjengkelkan. Dia
beristirahat di bawah pohon, namun masih saja suasana itu terasa. “ Akgh, benar
– benar ….” Umpat dennis
“dennis!” dennis seakan
mengenali suara yang memangilnya itu, yah itu suara heri
Dennis mencari arah
sumber suara. Dan ternyata kembar kocak itu, mereka ada juga.
“ kamu ngapain disini?”
Tanya aldi
“heri, gimana tim
basket?” dennis mengabaikan aldi dan bertanya pada heri
“dennis, kau tidak
perduli lagi”? aldi mulai marah pada dennis
“menurutmu, aku lagi
bikin apa?” dennis bertanya dengan suara lucu dengan temannya itu
“duduk – duduk,
istirahat, tunggu seseorang dan ….” Jawab aldi
“kenapa kau jawab? Dia
mempermainkanmu!” ardi menyadarkan saudara kembarnya itu sambil tertawa melihat
kepolosannya
“sekalipun anak kembar,
kalian memang berbeda.” Heri menatap saudara kembar itu. “oh, tim basket kita,
aku yang jadi kapten!” heri menjawab pertanyaan dennis yang sedari tadi belum
dijawab
“aku yakin kau bisa
melakukan yang terbaik. Aku percaya kemampuanmu. Dan 5 hari lagi aku akan
berangkat ke jerman. Aku memutuskan keluar dengan cepat, aku ingin menghabiskan
waktuku di sini untuk menggunakan hal – hal yang aku sukai” dennis menyampaikan
isi hatinya pada teman – temanya
“kami tahu itu. Tapi
Basket”? Tanya heri
“aku sangat suka. Tapi
ada sesuatu yang lebih penting” jawab dennis denga tatapan kosong memandang daun
– daun di sekitar taman
“apakah itu cewek –
cewek yang kagum sama kamu”? Tanya aldi
“bukan. Dia adalah
seorang yang sangat aku sayangi, dia sangat cantik, pintar, baik, ceria, dia….”
Dennis menghentikan pembicaraannya. “ hei, kenapa kalian menatapku seperti
itu”?
“kita terbawa dengan
lamunanmu tentang dia. Dan sepertinya kita tidak akan mendengar itu lagi” jawab
heri dan berdiri dari tempat
“heri, ada apa?” Tanya
aldi
“kita akan BERSENANG –
SENANG” teriak heri dengan mengangkat tangan kirinya ke atas dengan ekspresi
yang sangat gembira
“itu kesenanganmu, bukan
kami” dennis tertawa geli. “ hei, aku lupa. Mommy menungguku di mobil. Aku tadi
keluar dari mobil, dan dia menungguku. Jangan – jangan …..” dennis berlari kea
rah mobil mommy nya yang terjebak macet. Dan teman – temannya mengikuti dari
belakang. Dennis mencari – cari mobil avanza merah milik mommy nya. Dia tidak
menemukannya.
“dennis, kau ikut kita
– kita. Kita BERSENANG – SENANG” teriak heri lagi di tengah mobil – mobil di
jalan yang terjebak macet. Dan membuat pemilik mobil itu berbalik ke arahnya dan
melihat dengan tatapan sinis. Dan mereka segera lari dari tempat itu, dan
mencari tempat aman.
***
“dennis, ayo bangun. Kamu
tidak mau ke rumah arin” mommy dennis memukul dennis untuk bangun
“rumah arin? Aku
capek.”
“kamu sih, mommy
tungguin tadi di mobil malah kabur. Mommy udah bilang jangan lama – lama”
“tapi kan ma, mama bisa
tungguin dennis” dennis seraya bangun membantah ucapan mamanya dengan muka
marah
“kamu mau mama di
lempar sama orang – orang, gara – gara mobil mama tidak jalan. Dan mobil mereka
tidak bisa lewat sementara di depan jalanan kosong” omel mama dennis sambil
merapikan tempat tidur dennis
“tapi, mama bisa tunggu
aku di tempat lain, dan kabarin aku” dennis mengambil handuknya dan menuju
kamar mandi
“udah, mandi cepat.
Udah malam.”
Dennis memakai celana
jins panjang, dan kemeja putih. Dia terlihat sangat tampan. Dia bak seorang
pangeran yang akan bertemu dengan putrinya. Dennis tertawa sendiri mengingat
itu.
“dennis, kita sudah
sampai”
“ok ma”
Dennis membunyikan bel
rumah arin. Dan pintu terbuka. Berdiri seorang perempuan berbaju tidur dengan
boneka hello kitty di tangannya.” Konbanwa” ucap arin dengan logat bahasa
jepang yang kental
“haii, konbanwa” jawab
dennis
“hahaha. Kak dennis
lucu”. Arin tertawa geli melihat dennis berbahasa jepang juga.” Tante, silahkan
masuk. Mama dan papa ada di dalam”
Mama papa dennis masuk
ke dalam rumah, dan dennis bermain bersama arin di depan rumah. Mereka begitu
senang dan bahagia. Arin sangat cantik dan dennis begitu tampan dengan
kemejanya.
“kak, kita duduk di
taman yah”
Dennis duduk di samping
arin.”ada yang mau kakak bicarakan”
“apa kak?” arin tidak
menoleh pada dennis dia menatap bintang
“4 hari lagi kakak akan
ke jerman!” dennis menunduk
Hati arin seakan di
tusuk – tusuk, dia tidak bisa bernapas. Begitu pilu. Pernyataan dennis seakan
petir menyambar di sekelilignya, ia bagai tidak bisa hidup semua bagian
tubuhnya tidak bisa berfungsi, tidak mampu menjalankan tugasnya masing –
masing.
“kakak maaf tapi kakak
…”
Dennis belum sempat
melanjutkan ucapannya, arin memotong pembicaraannya, “kakak, mau aku berubah
tidak mengenal kakak lagi” seketika itu air mata arin jatun membasahi pipinya
yang mulus tanpa noda.” Kakak, akan meninggalkanku sendirian. Aku tidak bisa
hidup. Kakak tahu, aku seperti sekarang ini karena kakak. Kakak juga tahu, 7
tahun lalu sebelum aku bertemu kakak, aku kehilangan kakak laki – lakiku yang
sangat aku sayangi. Dan sekarang kaka, mela akukannya lagi” arin menangis
sekeras – kerasnya, ia tidak bisa menahan semua kesakitannya malam itu. Ia
seperti tidak ingin hidup lagi.
Dennis merasa sangat
bersalah telah berkata seperti itu, tapi ia berpikir, ia baru menyadari betapa
sangat dewasanya arin. Ia tidak menyangka adiknya yang dia kenal selama ini,
bisa berkata seperti itu yang tidak pernah ia duga. Arin yang polos, lucu, dan
imut. Dennis benar – benar tidak pernah
menyadari selama ini sifat yang di tunjukkan arin menunjukkan betapa
senangnya ia bisa bertemu dengan dirinya, arin selalu mencari perhatian terhadap
kakaknya karena ia sangat butuh perhatian. Arin benar – benar kesepian, dan
malam itu arin menunjukkan bahwa sebenarnya dia adalah seorang anak imut yang
benar – benar dewasa. Dennis benar – benar tidak mengenal arin sepenuhnya.
Dennis menatap kosong kearah arin, dia sangat ingin menangis, namun tertahan
oleh rasa bersalahnya yang menumpuk di dada, rasa – rasanya dia ingin memukul
dirinya sendiri. 4 tahun adalah bukan jaminan untuk dennis mengenal arin
sepenuhnya.
“kakak, benar – benar
minta maaf, kakak tidak tahu kalau ini juga akan terjadi” dennis masih dengan
tatapan kosongnya
“tapi, kakak bisa
membunuhku”
Dennis benar – benar
tidak percaya, ia bagaikan berbicara dengan seumurnya.”kakak, akan
menjelaskannya” dennis menyandarkan kepala arin dipundaknya dia berusaha
menenangkan adiknya.”kakak, sangat sayang sama arin, kakak tidak akan mau
kehilangan kamu. Kamu harus percaya apa yang kakak bilang. Tapi, kakak harus
pergi bukan karena kakak akan melupakanmu tapi karena kakak harus mencari
kebahagiaan untukmu, kakak yakin kamu mengerti apa yang kakak maksud, kamu
bukan anak kecil, kamu gadis yang pintar kita pasti akan bertemu lagi. Kakak
yakin itu”
“aku sayang sama kakak,
aku percaya apa yang kakak bilang, dan aku senang kakak mengerti aku. Dan yang
pasti kita pasti bertemu.” Arin masih menyandarkan kepalanya pada pundak dennis
“benar – benar tak
terduga, pikiran kakak setelah kakak bilang begini. Kamu akan berteriak
bertanya mengapa kakak pergi dan lain – lain” dennis menatap arin yang masih
bersandar di pundaknya, dan tatapannya membuat arin mengangkat kepalanya dan
menatap dennis.
“kakak yang buatku
berubah”
“kamu bukan berubah,
tapi aslimu baru keluar, heheheh”. Dennis berusaha mencairkan suasana dengan
membuat sebuah lelucon kecil
“kak, kalungnya aku
apain”? arin menunjukkan kalung yang pernah diberikan dennis sewaktu mereka
piknik di pantai
“yah, kalung!” dennis
juga melepaskan kalung itu dari lehernya.”kalung ini, untuk kamu dan kalungmu
buat aku. Aku mau kalung ini kamu berikan lagi pada kakak saat kita ketemu
lagi. Walaupun kalungnya sama ada foto kita berdua. Tapi, di belakang mainan
itu nama kita masing masing udah
ditulis. Dan kamu simpan kalungku”
Arin hanya diam. Dia
tidak percaya apa yang barusan dennis katakan, mereka memang benar – benar akan
berpisah. Dan arin tahu, itu bukan satu atau dua tahun, tapi lima tahun bahkan
lebih. Arin, harus merelakan semua itu, dia tidak mungkin menangis meraung –
raung di depan dennis atau depan orang tua dennis berharap mereka membatalkan
rencana mereka. Arin tidak akan , melakukan hal sebodoh dan segila itu.”kak,
nanti kalau kita bertemu lagi, kakak mau aku seperti apa? Seperti anak yang
lucu dan imut atau seperti sekarang yang dewasa?”
“entahlah. Yang
terpenting kamu harus mengikuti perintahku. Kita tetap akan berkomunikasi.”
“kakak tidak akan
bertemu gadis seperti aku di jerman kan?”
“dasar!.dennis
menunjukkan senyum mengerikannya.”Mana ada gadis seperti mu di jerman. Kamu itu
sangat langka”
“kak, tapi apa yang aku
lakukan kalau aku rindu sama kakak”
“aku tahu kamu berbohong
lagi.” Dennis membalikkan badan adiknya ke arahnya agar adiknya
memperhatikannya.”kakak, tahu. Kamu tahu apa yang kamu harus lakukan”
“hai” arin menjawab
tegas dengan gaya khas jepangnya
Malam itu adalah malam
yang benar – benar di harapkan oleh arin, sangat menyenangkan bisa berbicara
dengan dennis dalam suasana yang berbeda. Mereka berbicara bak sepasang kekasih
yang sebaya, bukan sebagai kakaknya.
***