Sabtu, 14 Mei 2016

Puisi : Jeritan Anak Negeri

JERITAN ANAK NEGERI

Oleh : NINING IRIANTI
Ketika suara gemuruh bergema di negeri ini
Ketika suara persatuan terdengar di penjuru negeri
Melayangkan suara kemerdekaan di langit pertiwi
Membangun semangat baru untuk negeri tercinta….
Itu … hanya 68  tahun  lalu
Ketika cerita ini masih di rasakan …

68 tahun kemudian telah datang menanti
Untuk menghapus pilu lalu ..
Untuk membawa cerita negeri ke ujung dunia
Namun,..
Apa yang terjadi pada negeriku?
Apa yang terjadi pada bumi pertiwi ini?
Tangis, air mata, luka dimana – mana kami rasakan
Seakan semua itu datang untuk menganti perjuangan dan luka pejuangku …
Sungguh ironis negeriku
Inikah sebuah balasan?

Masa ini, bekerja keras tak lagi berarti
Pengorbanan, tanggung  jawab, dan pengabdian
Hanyalah untaian kata tanpa arti
Kekerasan mewarnai negeriku,
Ketidakadilan seakan menjadi tidak berarti
Di hadapan meja hijau

Sementara, di atas
Para pengemban -  pengemban tugas Negara
Duduk, diam, di tempatnya
Menikmati istananya
Menggunakan fasilitas mewah milik Negara tanpa sedikitpun rasa iba atas kami
Gedung – gedung tinggi menjadi tempat mereka
Memakan habis hak – hak kami, tanpa sedikit hati nurani
Tempat – tempat itu hanyalah sebuah bangunan tanpa arti
Dan KEKUASAAN itulah negeriku

“KEMISKINAN HARUS DITUNTASKAN”
“KEADILAN HARUS DITEGAKKAN”
Kemana perginya slogan itu?
Kemana rimbanya kata itu?
Kemerdekaan, dan reformasi tak lagi kami rasakan
Mencari sedikit kebahagiaan begitu susah

Ibu pertiwi …
Jeritan hati kami telah terdengar di setiap sudut kota ini,
Hanya terdengar sayup, bagai angina yang  lewat tanpa singgah mengetuk setiap hati
Jeritan ini hanya seperti kicauan burung di pagi hari
Tanpa arti, hanya menjadi pelengkap pagi..

Untuk lingkungan seperti ini,
Kami hanya sesuatu yang menjijikkan
Berusaha hidup di antara mereka
Walau dengan cara yang di benci mereka
Jeritan ini, akan terus terdengar di tanah airku,

Yaitu jeritan seorang anak negeri.

1 komentar: