Jumat, 22 Juli 2016

Story : My Little Friend #Chapter2

#CHAPTER 2

Malam itu begitu mencekam bagi seorang anak lelaki seperti dennis. Wajahnya yang begitu tampan yang dapat membuat bunga saja yang melihatnya menjadi mekar tidak dapat menutupi sedihnya dia, rambutnya yang hitam dan poninya yang hampir menutupi matanya mencerminkan kesedihannya. Bibirnya yang kecil seakan tak berhenti berkata, matanya memancarkan perasaannya yang sedih begitu dalam.  Dan satu minggu tidak terasa dia telah lewati, dan itu berarti dia harus melewati 2 minggu ke depan yang sangat menyeramkan baginya, dia harus meninggalkan seseorang yang sangat dia sayangi. Dia terus meratapi kesedihannya, hingga malam terus larut dan dinginnya angin malam terus berhembus menyambar kulitnya yang putih.
“akh, aku harus buat apa. Tuhan, tolong aku” batinnya berkata
“lebih baik aku latihan basket, untuk pertandinganku nanti.” Batinnya lagi
Dennis segera beranjak dari tempat duduknya dan menuju ke kamarnya untuk mengambil bola basket dan pergi ke lapangan dekat rumahnya.
“mom, dennis pergi ke lapangan sebentar ya” dennis meminta izin pada mommy dengan mendrible bola basket di tangannya.
“jam begini kamu mau ke lapangan? Kamu main sama siapa?” Tanya mommy dennis
“dennis sendiri mom” jawab dennis masih dengan memainkan bolanya
“dennis, lihat gaya kamu! Kamu sudah seperti anak muda umur 17 tahun.” Mommy dennis melihat dennis dengan senyuman bahagianya melihat anaknya tumbuh menjadi anak yang tampan dan keren.
“dennis akan kembali 1 jam lagi” dennis segera berlari menuju lapangan
Malam itu, dia main sendiri tanpa di ganggu oleh lawan – lawan seperti biasa ia bertanding. Perasaan sedih, marah, kecewa yang sedari tadi ia pendam ia keluarkan lewat shootnya ke ring basket. Dan setelah merasa capek. Akhirnya ia merasa lega dan semua jadi tenang. Dennis kembali ke rumah.

Matahari telah muncul di balik langit biru, menampakkan senyuman khasnya yang begitu indah pada pagi hari. Senyuman dennis kembali terukir pada wajahnya yang tampan. Dia segera beranjak dari tempat tidur, dia sudah sangat kesiangan. Tidak biasanya dia bangun pada waktu seperti itu. Biasanya dia yang selalu menunggu matahari untuk bersinar, tetapi pada pagi itu, matahari yang tersenyum duluan kepadanya. Dia sangat kelelahan karena malam itu.
“mom, kenapa dennis di biarkan tidur tadi” dennis merapikan dasinya dan menuju ke meja makan yang telah menunggu daddy dan mommy nya.
“biarkan? Kamu tidur jam berapa tadi malam? Kamu sudah berada dalam mimpimu yang berkepanjangan.”
“ Daddy love your dream. I like it.” daddy dennis mengoda dennis dengan candaan kecilnya. Membuat tawa di meja makan.
“udah. ayo, jam udah menunjukkan pukul tujuh! “ mommy dennis
Setelah mereka sarapan, dennis dan daddy pamit pada mommy .
“dennis, kamu mau berangkat dengan daddy?” Tawar daddy
“no dad, dennis naik sepeda ” jawab dennis
“you are not too late?” Tanya daddy  lagi
“”I have repeatedly seen Superman in the movie. and I think I can do it. jawab dennis membanggakan dirinya
“ok. Do what you can”
***
Suasana sekolah begitu ramai, tidak biasanya murid – murid SMP bumi bakti ramai berkumpul pada papan penguguman. Biasanya juga di kantin.
Tiba – tiba seorang laki – laki teman sebaya dennis menghampirinya.
“dennis, kamu udah lihat penguguman belum”? Tanya temannya
“penguguman apa”? Tanya dennis dengan santai
“dasar kamu ini. Acara lomba sekolah akan dipercepat. Otomatis tim basket kita juga harus bersiap – siap. Kita nggak punya waktu lagi” jawab teman dennis dengan gaya berbicara anak – anak remaja jakarta
“apa? Kenapa bisa begini. Jadi kita kapan bertandingnya?” Tanya dennis lagi
“aku juga belum lihat.” teman dennis dengan mengaruk kepalanya
Dennis segera meninggalkan temannya yang kebingungan, untuk melihat jadwal pertandingan mereka.
“permisi,” dennis menbuka jalan ditengah keramaian papan penguguman.
“dennis, jadwal kita kapan”? Tanya teman dennis tadi dengan tiba – tiba dia berada di dekat dennis
Setelah mereka mencari nama klub mereka. Tertulis 84BB Basketball klub VS 95BB Basketball klub yang merupakan nama identitas kelas tim masing – masing.
Mereka berdua saling menatap.
“hari selasa  jam 03.00 sore, tempat gedung lapangan basket sekolah SMP Bumi bakti” kata dennis membacakan jadwal mereka yang tertulis pada papan penguguman.
“itu berarti…” kata dennis lagi dengan menatap mata temannya itu
“besok kita tanding” jawab mereka bersamaan dengan suara yang keras dan ekspresi mereka yang sangat kaget.
Serentak, siswa – siswa yang sedari tadi berada di sekitar papan yang ingin melihat jadwal mereka sangat kaget akibat ulah mereka berdua. Dennis dan temannya pun lari dari kumpulan siswa tersebut.
“jantungku hampir mau copot gara – gara anak tidak jelas itu.” Kata salah satu siswa cowok ditempat itu
“iya. Menggangu saja.” Tambah yang lainnya
“dasar kalian! Kalian iri sama dennis” jawab salah seorang siswa cewek
“iya nih! Dennis keren gitu” tambah siswa cewek lain memuji dennis dengan muka mereka yang berbinar – binar bagai bertemu seorang pangeran tampan yang akan membawa mereka ke istana.
“kalian tuh terlalu berlebihan” balas siswa cowok

Dennis dan temannya segera menemui teman – teman mereka untuk memberitahu teman – temannya yang lain. Mereka berdua menuju ke kantin, ke kelas, namun teman mereka yang lainnya tidak terlihat. Akhirnya mereka memutuskan untuk pergi ke gedung lapangan basket tempat mereka biasa latihan.
Tampak, teman – teman mereka sedang latihan.
“guys” panggil dennis mengikuti gaya bergaul anak – anak remaja lain
Serentak, teman mereka berbalik ke arah suara dennis. Mereka pun berkumpul membicarakan klub mereka yang akan bertanding besok.
“guys, besok kita akan tanding. Apa yang harus kita lakukan. Kita belum latihan. Bagaimana bisa sekolah memajukan waktu yang sebenarnya 2 minggu lagi. Benar – benar !” kata dennis dengan sangat marah yang bediri di hadapan teman – temannya sebagai ketua klub basket kelas mereka
“iya. Benar. Sangat keterlaluan.” Jawab aldi yang sedari tadi mengikuti dennis
Semua teman mereka yang lainnya, diam seribu bahasa mendengar omelan dennis dan aldi yang baru datang.
“hei, apa kalian tidak peduli lagi dengan tim kita. Tim kita banggaan, kelas kita. Kalau kita menang kita bisa mewakili sekolah kita dia ajang nasional basket se Jakarta” jawab salah satu teman mereka
“dennis, kamu ini bagaimana kamu sebagai ketua klub kita malah kamu yang belum tahu, dan kamu tiba – tiba datang marah - marah” kata heri salah satu teman mereka dengan sangat marah pada dennis
“jadi, kalian udah tahu?” Tanya aldi pada heri
“iya” jawab heri tanpa menoleh pada aldi dan dennis
“jadi, apa yang harus kita lakukan?” Tanya dennis pada teman – temannya
“dennis, kamu ini kenapa? Seharusnya pertanyaan itu untukmu!.” Jawab heri dengan sangat marah pada dennis
“ok. kalau begitu, kita latihan sekarang. Kita bolos satu hari, demi pertandingan besok. Ini kesalahan sekolah seharusnya mereka bertanggung jawab.” Jawab aldi dengan meredamkan kemarahan teman – temannya
Mereka pun segera latihan untuk meraih kemenangan besok. Mereka tidak akan mampu menerima kekalahan besok, yang bukan pertandingan semifinal, ataupun final melainkan babak penyisihan.
Di benak dennis terbayang wajah arin yang akan kecewa jikalau dia kalah. Dennis sangat menyesal karena telah berbicara pada arin, bahwa dia akan memenangkan pertandingan itu untuk arin sebagai kado hadiah ulang tahunnya pada 10 april mendatang.
“guys, berhenti semua. Kita istirahat sebentar!” perintah dennis pada teman – temannya
Mereka segera berlari ke arah dennis untuk beristirahat.
“katakan cepat apa yang ingin kau bicarakn. Sebelum kami tutup kesempatan ini untukmu!” heri membuka pembicaraan dengan melontarkan kesempatan berbicara untuk dennis yang membuat bingung teman – temannya.
Dennis sangat keget, dengan pertanyaan heri. Apakah di raut wajahnya tertulis pikirannya.
“bagaimana ia bisa tahu kalau aku akan mengatakan sesuatu?” batin dennis.
“raut wajahmu sangat kelihatan” kata heri pada dennis singkat sambil meneguk minumannya
Dennis kembali terkaget dengan jawaban heri.
“apa dia seorang pembaca pikiran? Kenapa dia bisa mengetahui isi pikiranku?” batin dennis
Heri memang sangat dewasa diantara teman – temannya. Dia sangat bijak, dia seharusnya 2 kali tingkatan dari dennis dan teman – temannya sekarang namun karena factor kemalasan dirinya, dia harus menunggu untuk itu.
Aldi menatap wajah dennis.
“dennis, memang raut wajahmu kenapa”? Tanya aldi dengan polos
“ok. Aku akan mengatakan sesuatu pada kalian” jawab dennis
Serentak semua teman – temannya melihat kearah dennis dengan sangat serius.
“sebenarnya, bulan depan aku dan keluargaku akan pindah ke jerman dan tinggal di sana. Jadi, aku akan tinggal di sana dan sekolah dan kuliah di sana.” Kata dennis dengan menunduk sebagai rasa bersalahnya pada teman – temannya
“apa ? jerman ? wow itu sangat keren dennis! Wah kamu hebat cewek cewek di sini akan histeris mendengar itu ! aldi menjawab pernyataan dennis dengan polos
“dennis, kenapa kamu tidak pernah bicara soal itu” jawab heri
“dennis, kita akan sangat kehilangan kamu, kita tidak akan mempunyai ketua klub seperti kamu, kamu sangat tepat waktu dan disiplin” tambah ardi dengan pernyataannya yang membuat kaget teman – temannya
“kalian memang sangat mirip, saudara kembar yang tak akan terpisahkan, ARDI DAN ALDI” jawab dennis melihat ke arah ardi dan aldi
“dennis, kita akan sangat sedih kalau kamu pergi.” Jawab aldi dengan sedih
“dia sudah mulai mengerti” bisik heri pada teman di sampingnya
***



Tidak ada komentar:

Posting Komentar