#CHAPTER 2
Malam itu begitu
mencekam bagi seorang anak lelaki seperti dennis. Wajahnya yang begitu tampan
yang dapat membuat bunga saja yang melihatnya menjadi mekar tidak dapat
menutupi sedihnya dia, rambutnya yang hitam dan poninya yang hampir menutupi
matanya mencerminkan kesedihannya. Bibirnya yang kecil seakan tak berhenti
berkata, matanya memancarkan perasaannya yang sedih begitu dalam. Dan satu minggu tidak terasa dia telah lewati,
dan itu berarti dia harus melewati 2 minggu ke depan yang sangat menyeramkan
baginya, dia harus meninggalkan seseorang yang sangat dia sayangi. Dia terus
meratapi kesedihannya, hingga malam terus larut dan dinginnya angin malam terus
berhembus menyambar kulitnya yang putih.
“akh, aku harus buat
apa. Tuhan, tolong aku” batinnya berkata
“lebih baik aku latihan
basket, untuk pertandinganku nanti.” Batinnya lagi
Dennis segera beranjak
dari tempat duduknya dan menuju ke kamarnya untuk mengambil bola basket dan
pergi ke lapangan dekat rumahnya.
“mom, dennis pergi ke
lapangan sebentar ya” dennis meminta izin pada mommy dengan mendrible bola
basket di tangannya.
“jam begini kamu mau ke
lapangan? Kamu main sama siapa?” Tanya mommy dennis
“dennis sendiri mom”
jawab dennis masih dengan memainkan bolanya
“dennis, lihat gaya
kamu! Kamu sudah seperti anak muda umur 17 tahun.” Mommy dennis melihat dennis
dengan senyuman bahagianya melihat anaknya tumbuh menjadi anak yang tampan dan
keren.
“dennis akan kembali 1
jam lagi” dennis segera berlari menuju lapangan
Malam itu, dia main
sendiri tanpa di ganggu oleh lawan – lawan seperti biasa ia bertanding.
Perasaan sedih, marah, kecewa yang sedari tadi ia pendam ia keluarkan lewat
shootnya ke ring basket. Dan setelah merasa capek. Akhirnya ia merasa lega dan semua
jadi tenang. Dennis kembali ke rumah.
Matahari telah muncul
di balik langit biru, menampakkan senyuman khasnya yang begitu indah pada pagi
hari. Senyuman dennis kembali terukir pada wajahnya yang tampan. Dia segera
beranjak dari tempat tidur, dia sudah sangat kesiangan. Tidak biasanya dia bangun
pada waktu seperti itu. Biasanya dia yang selalu menunggu matahari untuk
bersinar, tetapi pada pagi itu, matahari yang tersenyum duluan kepadanya. Dia
sangat kelelahan karena malam itu.
“mom, kenapa dennis di
biarkan tidur tadi” dennis merapikan dasinya dan menuju ke meja makan yang
telah menunggu daddy dan mommy nya.
“biarkan? Kamu tidur
jam berapa tadi malam? Kamu sudah berada dalam mimpimu yang berkepanjangan.”
“ Daddy love your
dream. I like it.” daddy dennis mengoda dennis dengan candaan kecilnya. Membuat
tawa di meja makan.
“udah. ayo, jam udah
menunjukkan pukul tujuh! “ mommy dennis
Setelah mereka sarapan,
dennis dan daddy pamit pada mommy .
“dennis, kamu mau
berangkat dengan daddy?” Tawar daddy
“no dad, dennis naik
sepeda ” jawab dennis
“you are not too late?”
Tanya daddy lagi
“”I have repeatedly
seen Superman in the movie. and I think I can do it. jawab dennis membanggakan
dirinya
“ok. Do what you can”
***
Suasana sekolah begitu
ramai, tidak biasanya murid – murid SMP bumi bakti ramai berkumpul pada papan
penguguman. Biasanya juga di kantin.
Tiba – tiba seorang
laki – laki teman sebaya dennis menghampirinya.
“dennis, kamu udah
lihat penguguman belum”? Tanya temannya
“penguguman apa”? Tanya
dennis dengan santai
“dasar kamu ini. Acara
lomba sekolah akan dipercepat. Otomatis tim basket kita juga harus bersiap –
siap. Kita nggak punya waktu lagi” jawab teman dennis dengan gaya berbicara
anak – anak remaja jakarta
“apa? Kenapa bisa
begini. Jadi kita kapan bertandingnya?” Tanya dennis lagi
“aku juga belum lihat.”
teman dennis dengan mengaruk kepalanya
Dennis segera
meninggalkan temannya yang kebingungan, untuk melihat jadwal pertandingan
mereka.
“permisi,” dennis
menbuka jalan ditengah keramaian papan penguguman.
“dennis, jadwal kita
kapan”? Tanya teman dennis tadi dengan tiba – tiba dia berada di dekat dennis
Setelah mereka mencari
nama klub mereka. Tertulis 84BB Basketball klub VS 95BB Basketball klub yang
merupakan nama identitas kelas tim masing – masing.
Mereka berdua saling
menatap.
“hari selasa jam 03.00 sore, tempat gedung lapangan basket
sekolah SMP Bumi bakti” kata dennis membacakan jadwal mereka yang tertulis pada
papan penguguman.
“itu berarti…” kata
dennis lagi dengan menatap mata temannya itu
“besok kita tanding”
jawab mereka bersamaan dengan suara yang keras dan ekspresi mereka yang sangat
kaget.
Serentak, siswa – siswa
yang sedari tadi berada di sekitar papan yang ingin melihat jadwal mereka
sangat kaget akibat ulah mereka berdua. Dennis dan temannya pun lari dari
kumpulan siswa tersebut.
“jantungku hampir mau
copot gara – gara anak tidak jelas itu.” Kata salah satu siswa cowok ditempat
itu
“iya. Menggangu saja.”
Tambah yang lainnya
“dasar kalian! Kalian
iri sama dennis” jawab salah seorang siswa cewek
“iya nih! Dennis keren
gitu” tambah siswa cewek lain memuji dennis dengan muka mereka yang berbinar –
binar bagai bertemu seorang pangeran tampan yang akan membawa mereka ke istana.
“kalian tuh terlalu
berlebihan” balas siswa cowok
Dennis dan temannya
segera menemui teman – teman mereka untuk memberitahu teman – temannya yang
lain. Mereka berdua menuju ke kantin, ke kelas, namun teman mereka yang lainnya
tidak terlihat. Akhirnya mereka memutuskan untuk pergi ke gedung lapangan
basket tempat mereka biasa latihan.
Tampak, teman – teman
mereka sedang latihan.
“guys” panggil dennis
mengikuti gaya bergaul anak – anak remaja lain
Serentak, teman mereka
berbalik ke arah suara dennis. Mereka pun berkumpul membicarakan klub mereka
yang akan bertanding besok.
“guys, besok kita akan
tanding. Apa yang harus kita lakukan. Kita belum latihan. Bagaimana bisa
sekolah memajukan waktu yang sebenarnya 2 minggu lagi. Benar – benar !” kata
dennis dengan sangat marah yang bediri di hadapan teman – temannya sebagai
ketua klub basket kelas mereka
“iya. Benar. Sangat
keterlaluan.” Jawab aldi yang sedari tadi mengikuti dennis
Semua teman mereka yang
lainnya, diam seribu bahasa mendengar omelan dennis dan aldi yang baru datang.
“hei, apa kalian tidak
peduli lagi dengan tim kita. Tim kita banggaan, kelas kita. Kalau kita menang
kita bisa mewakili sekolah kita dia ajang nasional basket se Jakarta” jawab
salah satu teman mereka
“dennis, kamu ini
bagaimana kamu sebagai ketua klub kita malah kamu yang belum tahu, dan kamu
tiba – tiba datang marah - marah” kata heri salah satu teman mereka dengan
sangat marah pada dennis
“jadi, kalian udah
tahu?” Tanya aldi pada heri
“iya” jawab heri tanpa menoleh
pada aldi dan dennis
“jadi, apa yang harus
kita lakukan?” Tanya dennis pada teman – temannya
“dennis, kamu ini
kenapa? Seharusnya pertanyaan itu untukmu!.” Jawab heri dengan sangat marah
pada dennis
“ok. kalau begitu, kita
latihan sekarang. Kita bolos satu hari, demi pertandingan besok. Ini kesalahan
sekolah seharusnya mereka bertanggung jawab.” Jawab aldi dengan meredamkan
kemarahan teman – temannya
Mereka pun segera
latihan untuk meraih kemenangan besok. Mereka tidak akan mampu menerima
kekalahan besok, yang bukan pertandingan semifinal, ataupun final melainkan
babak penyisihan.
Di benak dennis
terbayang wajah arin yang akan kecewa jikalau dia kalah. Dennis sangat menyesal
karena telah berbicara pada arin, bahwa dia akan memenangkan pertandingan itu
untuk arin sebagai kado hadiah ulang tahunnya pada 10 april mendatang.
“guys, berhenti semua.
Kita istirahat sebentar!” perintah dennis pada teman – temannya
Mereka segera berlari
ke arah dennis untuk beristirahat.
“katakan cepat apa yang
ingin kau bicarakn. Sebelum kami tutup kesempatan ini untukmu!” heri membuka
pembicaraan dengan melontarkan kesempatan berbicara untuk dennis yang membuat
bingung teman – temannya.
Dennis sangat keget,
dengan pertanyaan heri. Apakah di raut wajahnya tertulis pikirannya.
“bagaimana ia bisa tahu
kalau aku akan mengatakan sesuatu?” batin dennis.
“raut wajahmu sangat
kelihatan” kata heri pada dennis singkat sambil meneguk minumannya
Dennis kembali terkaget
dengan jawaban heri.
“apa dia seorang
pembaca pikiran? Kenapa dia bisa mengetahui isi pikiranku?” batin dennis
Heri memang sangat
dewasa diantara teman – temannya. Dia sangat bijak, dia seharusnya 2 kali
tingkatan dari dennis dan teman – temannya sekarang namun karena factor kemalasan
dirinya, dia harus menunggu untuk itu.
Aldi menatap wajah
dennis.
“dennis, memang raut
wajahmu kenapa”? Tanya aldi dengan polos
“ok. Aku akan
mengatakan sesuatu pada kalian” jawab dennis
Serentak semua teman –
temannya melihat kearah dennis dengan sangat serius.
“sebenarnya, bulan
depan aku dan keluargaku akan pindah ke jerman dan tinggal di sana. Jadi, aku
akan tinggal di sana dan sekolah dan kuliah di sana.” Kata dennis dengan
menunduk sebagai rasa bersalahnya pada teman – temannya
“apa ? jerman ? wow itu
sangat keren dennis! Wah kamu hebat cewek cewek di sini akan histeris mendengar
itu ! aldi menjawab pernyataan dennis dengan polos
“dennis, kenapa kamu
tidak pernah bicara soal itu” jawab heri
“dennis, kita akan
sangat kehilangan kamu, kita tidak akan mempunyai ketua klub seperti kamu, kamu
sangat tepat waktu dan disiplin” tambah ardi dengan pernyataannya yang membuat
kaget teman – temannya
“kalian memang sangat
mirip, saudara kembar yang tak akan terpisahkan, ARDI DAN ALDI” jawab dennis
melihat ke arah ardi dan aldi
“dennis, kita akan
sangat sedih kalau kamu pergi.” Jawab aldi dengan sedih
“dia sudah mulai
mengerti” bisik heri pada teman di sampingnya
***
Tidak ada komentar:
Posting Komentar